NAMA :
MOCH BAYU IKHSYANIE
NIM : 04218030
FAKULTAS : ILMU KOMPUTER
PRODI :
SISTEM INFORMASI
ABU ‘UBAIDAH IBNUL
JARRAH
ORANG KEPERCAYAAN UMMAT
´ Sahabat
inilah yang pertama-tama dijuluki sebagai pemimpin para pemimpin (Amirul
Umara). Dialah orang yang dipegang oleh Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam dengan tangan kanannya seraya bersabda mengenai
dirinya,
´ إِنَّ لَكُمْ أُمَّةً
أَمِيْنًا، وَإِنَّ أَمِيْنَ هذِهِ اْلأُمَّةِ أَبُوْ عُبَيْدَةَ بْنُ اْلجَرَّاحِ
´ “Sesungguhnya
setiap umat memiliki orang kepercayaan, dan orang kepercayaan umat ini adalah
Abu Ubaidah bin al-Jarrah.“
´ Orang
kepercayaan inilah yang disebut-sebut Al-Faruq radhiallahu ‘anhu pada
saat akan menghembuskan nafas terakhirnya, “Seandainya Abu Ubaidah bin
al-Jarrah radhiallahu ‘anhu masih hidup, niscaya aku
menunjuknya sebagai penggantiku. Jika Rabb-ku bertanya kepadaku
tentang dia, maka aku jawab, ‘Aku telah menunjuk kepercayaan Allah dan
kepercayaan Rasul-Nya sebagai penggantiku’.”
´ Ia
masuk Islam lewat perantaraan Ash-Shiddiq di masa-masa awal Islam sebelum
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam masuk Darul Arqam. Ia
berhijrah ke Habasyah yang kedua. Kemudian kembali untuk berdiri di samping
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salalm dalam Perang Badar.
Ia mengikuti peperangan seluruhnya, kemudian melanjutkan berbagai peperangan
bersama Ash-Shiddiq dan Al-Faruq radhiallahu ‘anhuma.
´ Sikap
yang ditunjukkannya dalam perang Uhud menjelaskan kepada kita bahwa ia
benar-benar kepercayaan umat ini, di mana ia tetap menebaskan pedangnya yang
terpercaya kepada pasukan kaum paganis. Setiap kali situasi dan kondisi perang
mengharuskannya jauh dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,
maka ia berperang sembari kedua matanya memperhatikan di mana Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam bertempur.
´ Di
salah satu putarannya dan peperangan telah mencapai puncaknya, Abu
Ubaidah radhiallahu ‘anhu dikepung oleh segolongan kaum
musyrikin. Abu Ubaidah radhiallahu ‘anhu kehilangan kesadarannya,
ketika melihat anak panah meluncur dari tangan orang musyrik lalu mengenai
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ia menyerang orang-orang yang
mengepungnya dengan pedangnya dan seolah-olah ia memegang seratus pedang,
sehingga membuat mereka tercerai berai. Lantas ia berlari bak terbang menuju
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ia melihat darah beliau yang
suci mengalir dari wajahnya, dan melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi
wa sallam mengusap darah itu dengan tangan kanannya seraya bersabda,
´ كَيْفَ يُفْلِحُ قَوْمٌ
خَضَبُوْا وَجْهَ نَبِيِّهِمْ، وَهُوَ يَدْعُوْهُمْ إِلَى رَبِّهِمْ
´ “Bagaimana
akan beruntung suatu kaum yang melumuri wajah Nabi mereka, padahal dia menyeru
kepada Rabb mereka.” (Lihat, Tafsir al-Qurthubi, 4/ 199)
´ Abu
Bakar Ash-Shiddiq radhiallahu ‘anhu menerangkan kepada kita
tentang fenomena ini lewat pernyataannya, “Pada saat perang Uhud, ketika
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam terkena lemparan
sehingga dua bulatan besi menancap di dahinya, aku cepat-cepat menuju
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sementara ada seseorang
yang datang dari arah timur berlari kencang seperti terbang, maka aku katakan,
‘Ya Allah, jadikanlah itu sebagai ketaatan.’ Ketika kami sampai pada
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ternyata ia adalah Abu
Ubaidah bin Jarrah yang telah datang lebih dulu daripadaku. Ia berkata, ‘Aku
meminta kepadamu, dengan nama Allah, wahai Abu Bakar, biarkan aku mencabutnya
dari wajah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.’ Aku pun
membiarkannya. Ubaidah mengambil dengan gigi serinya salah satu bulatan besi
itu, lalu mencabutnya dan jatuh ke tanah, gigi serinya pun jatuh bersamanya.
Kemudian ia mengambil sepotong besi lainnya dengan gigi serinya yang lain
sampai jatuh. Sejak saat itu, Abu Ubaidah di tengah khalayak dijuluki dengan
Atsram (yang terpecah giginya, atau jatuh dari akarnya).
´ Pada
saat delegasi Najran dari Yaman datang untuk menyatakan keislaman mereka, dan
meminta kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam agar
mengutus bersama mereka orang yang mengajarkan kepada mereka Alquran, Sunnah
dan Islam, maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan
kepada mereka,
´ لأَبْعَثَنَّ مَعَكُمْ
رَجُلاً أَمِيْنًا، حَقَّ أَمِيْنٍ، حَقَّ أَمِيْنٍ، حَقَّ أَمِيْنٍ
´ “Aku
benar-benar akan mengutus bersama kalian seorang pria yang sangat dapat
dipercaya, benar-benar orang yang dapat dipercaya, benar-benar orang yang dapat
dipercaya, benar-benar orang yang dapat dipercaya.” (Thabaqat Ibn Sa’d,
3/ 314)
´ Semua
sahabat berharap bahwa dialah yang bakal dipilih oleh Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam. Ternyata persaksian ini menjadi keberuntungannya.
´ Umar
Al-Faruq radhiallahu ‘anhu berkata, “Aku tidak menyukai suatu
jabatan pun sebagaimana aku menyukainya pada saat itu, karena berharap akulah
yang bakal memperolehnya. Aku pergi untuk shalat Zhuhur dengan berjalan kaki.
Setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengerjakan
shalat Zhuhur bersama kami, beliau mengucapkan salam, kemudian memandang ke
kanan dan ke kiri. Aku menegakkan punggungku agar beliau melihatku. Tapi beliau
terus mengarahkan pandangannya hingga melihat Abu Ubaidah bin Al-Jarrah.
Kemudian beliau memanggilnya seraya bersabda,
´ اُخْرُجْ مَعَهُمْ،
فَاقْضِ بَيْنَهُمْ بِالْحَقِّ فِيْمَا اخْتَلَفُوْا فِيْهِ
´ ‘Keluarlah
bersama mereka. Putuskan perkara di antara mereka dengan haq dalam segala hal
yang mereka perselisihkan’.“
´ Akhirnya,
Abu Ubaidah radhiallahu ‘anhu pergi bersama mereka.
´ Setelah
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat, Abu
Ubaidah radhiallahu ‘anhu berjalan di bawah panji Islam.
Sekali waktu ia bersama para pasukan biasa, dan pada kesempatan yang lain
bersama para panglima. Sampai datanglah masa Umar radhiallahu ‘anhu,
ia menjabat sebagai panglima pasukan Islam di salah satu peperangan besar di
Syam. Ia mendapatkan kemenangan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam
peperangan ini, hingga ia menjadi hakim dan gubernur negeri Syam, dan
perintahnya ditaati.
´ Amirul
Mu’minin Umar bin Al-Khaththab radhiallahu ‘anhu mengunjungi
Syam, dan bertanya kepada orang-orang yang menyambutnya, “Di manakah
saudaraku?” Mereka bertanya, “Siapa?” Ia menjawab, “Abu Ubaidah bin al-Jarrah.”
Ketika Abu Ubaidah radhiallahu ‘anhu datang, Umar memeluknya.
Kemudian Abu Ubaidah radhiallahu ‘anhu membawa Umar radhiallahu
‘anhu ke rumahnya. Di dalam rumah tersebut, Umar tidak melihat sedikit
pun perkakas rumah tangga, kecuali pedang, perisai dan untanya. Umar radhiallahu
‘anhu bertanya kepadanya sembari tersenyum, “Mengapa engkau tidak
memiliki sesuatu untuk dirimu sebagaimana dilakukan orang lain?” Abu
Ubaidah radhiallahu ‘anhu menjawab, “Wahai Amirul
Mu’minin, inilah yang bisa mengantarkanku ke akhirat.”
´ Pada
suatu hari, pada saat Al-Faruq Umar bin al-Khaththab radhiallahu ‘anhu berada
di Madinah, seorang informan datang kepadanya untuk mengabarkan bahwa Abu
Ubaidah telah meninggal dunia. Mendengar hal itu, Al-Faruq radhiallahu
‘anhu memejamkan kedua matanya dalam keadaan penuh dengan air mata.
Air mata pun mengalir, lalu dia membuka kedua matanya dalam kepasrahan. Ia
memohonkan rahmat Allah untuk sahabatnya dalam keadaan air mata mengalir dari
kedua matanya, air mata orang-orang shalih. Air mata mengalir karena kematian
orang-orang yang shalih. Al-Faruq Umar bin Al-Khaththab radhiallahu
‘anhu berkata, “Seandainya aku boleh berangan-angan, maka aku hanya
mengangankan sebuah rumah yang dipenuhi orang-orang semisal Abu Ubaidah.”
´ Kepercayaan
umat meninggal dunia di atas bumi yang telah dibersihkannya dari paganisme
Persia yang beragama Majusi dan dari keangkara murkaan Romawi. Di sana pada
hari ini, di bawah tanah Yordan, jasad yang suci dikebumikan. Ia menjadi tempat
bagi ruh yang baik dan jiwa yang tentram.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar